Maaf, semuanya..aku ga sempet bales komen kalian
aku punya blog baru
Account'a juga bukan yang ini lagi
Aku minta maaaff... banget!
Bagi yang mau jadi pengikut blog-ku yang baru,
Buka ini ya!
http://www.ainobouken.blogspot.com/
Nah, sekarang aku mau bales komentar-komentar kalian di posting-ku ini,
untuk Uchiha Sasuke: Ahaha~ itu khayalan masa kecilku yang paling aku inget...
untuk riku-chan: Iya, ini Ai-chan yang dulu! syukur deh, kamu masih inget..
Untuk tacchan: aku akan kirim komentar di blog-mu secepatnya. tapi ga pake account yang ini, liat aja nanti.. bukan di blog tacchan aja, di blog yang udah ngasih komen ke aku juga!
Thanks All! Thanks dah ngasih komen di blog-ku ini...
Maaf ya, aku ga make blog ini lagi..
Maaaaaaaaafffff banget!
Senin, 29 Juni 2009
Jumat, 06 Maret 2009
Reuni
Setelah beberapa bulan, akhirnya aku dan teman-temanku bisa bertemu lagi. Yah, biasa dibilang “Reuni”-an. Aku sangat menantikan hari ini. Temanku, Vita yang memberitahuku tentang rencana “Reuni”-an ini. Seperti harapan menjadi kenyataan. Akhirnya keinginanku terwujud juga. Senangnyaaa…
Tepat jam setengah sembilan, aku keluar dari rumah dan pergi menuju sekolah. Tentu saja sekolah yang kumaksud adalah sekolah dasar yang menjadi tempat reuni kami hari itu. Tidak sabar rasanya bertemu dengan teman-temanku lagi. Pasti banyak perubahan pada mereka karena kami sudah cukup lama tidak bertemu, pikirku.
Sesampainya di sekolah, baru beberapa orang yang datang. Tentu saja salah satu dari mereka adalah Vita, temanku. Vita terlihat jauh berbeda dengan Vita yang dulu. Sekarang dia menjadi lebih tinggi dan rambutnya juga sudah panjang. Teman-temanku yang lain juga banyak perubahan. Dan saat aku datang mereka juga berpikir sama denganku. Mereka bilang, kalau aku juga banyak perubahan. Tapi, yang terpenting bagiku sekarang adalah bisa bertemu dengan teman-temanku lagi. Kyaa, senangnyaaa!!!
Semakin lama semakin banyak teman-temanku yang berdatangan. Tidak terkecuali anak laki-laki kelasku. Tak jauh beda dengan teman-temanku yang perempuan, anak laki-laki kelasku juga banyak perubahan. Ada yang semakin bertambah tinggi. Ada juga yang suaranya semakin nge-bass.
Setelah banyak yang datang, mereka saling mengobrol satu sama lain. Kebanyakan dari mereka membicarakan tentang sekolah masing-masing. Berhubung 98% teman-temanku masuk SMP yang sama. Diantara mereka yang asyik mengobrol, aku hanya bisa terdiam sendiri. Kenapa? Karena aku tidak satu sekolah dengan teman-temanku. Aku tidak menyangka acara ternyata seperti ini. Semuanya saling mengobrol sendiri.
Akhirnya aku memilih untuk pulang lebih awal. Aku ingin sekali datang ke acara reuni yang benar-benar “Reuni”. Apa bisa, ya?
Khayalan Anak Kecil
Ini adalah saat aku berusia sekitar tiga atau empat tahun. Aku memang sudah tidak terlalu ingat dengan hari itu. Tapi aku suka tertawa sendiri jika mengingat “aku” yang waktu itu.Hari itu aku dan keluargaku pergi jalan-jalan. Aku sudah tidak ingat lagi saat itu aku pergi ke mana saja. Tapi yang kuingat, dalam perjalanan pulang kami mampir ke sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, anak kecil dilarang masuk ke pusat perbelanjaan tersebut. Aku menunggu di luar bersama kakakku. Tak lama kemudian, papa dan kakakku yang lain mendatangiku. Mereka bilang kalau mama sedang membayar belanjaan di kasir. Jadi, kami semua menunggu di luar.
Kurasa sudah setengah jam berlalu. Tapi mama masih belum keluar juga. Aku mulai resah. Apa terjadi sesuatu?, pikirku. Dan karena aku mulai khawatir, aku membayangkan yang tidak-tidak lagi. Kali ini aku membayangkan kalau mama terhisap di sebuah lubang hitam di dinding ketika membawa barang belanjaan. Seketika itu juga aku langsung menangis. Aku takut kalau itu benar-benar terjadi. aku terus menerus menangis. Kakakku berusaha menenangkanku tapi aku terus menangis. Dan akhirnya aku berhenti menangis saat mama keluar dengan membawa barang belanjaan. Aku senng sekali bisa bertemu mama lagi.
Haa.. benar-benar masa kecil yang penuh dengan khayalan. Aku masih ingat saat aku sudah berhenti menangis, aku dibelikan kacang rebus yang dijual di dekat situ. Wuah, kenyang...
Khayalan Anak Kecil
Ini adalah saat aku berusia sekitar tiga atau empat tahun. Aku memang sudah tidak terlalu ingat dengan hari itu. Tapi aku suka tertawa sendiri jika mengingat “aku” yang waktu itu.
Hari itu aku dan keluargaku pergi jalan-jalan. Aku sudah tidak ingat lagi saat itu aku pergi ke mana saja. Tapi yang kuingat, dalam perjalanan pulang kami mampir ke sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, anak kecil dilarang masuk ke pusat perbelanjaan tersebut. Aku menunggu di luar bersama kakakku. Tak lama kemudian, papa dan kakakku yang lain mendatangiku. Mereka bilang kalau mama sedang membayar belanjaan di kasir. Jadi, kami semua menunggu di luar.
Kurasa sudah setengah jam berlalu. Tapi mama masih belum keluar juga. Aku mulai resah. Apa terjadi sesuatu?, pikirku. Dan karena aku mulai khawatir, aku membayangkan yang tidak-tidak lagi. Kali ini aku membayangkan kalau mama terhisap di sebuah lubang hitam di dinding ketika membawa barang belanjaan. Seketika itu juga aku langsung menangis. Aku takut kalau itu benar-benar terjadi. aku terus menerus menangis. Kakakku berusaha menenangkanku tapi aku terus menangis. Dan akhirnya aku berhenti menangis saat mama keluar dengan membawa barang belanjaan. Aku senng sekali bisa bertemu mama lagi.
Haa.. benar-benar masa kecil yang penuh dengan khayalan. Aku masih ingat saat aku sudah berhenti menangis, aku dibelikan kacang rebus yang dijual di dekat situ. Wuah, kenyang...
Hari itu aku dan keluargaku pergi jalan-jalan. Aku sudah tidak ingat lagi saat itu aku pergi ke mana saja. Tapi yang kuingat, dalam perjalanan pulang kami mampir ke sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, anak kecil dilarang masuk ke pusat perbelanjaan tersebut. Aku menunggu di luar bersama kakakku. Tak lama kemudian, papa dan kakakku yang lain mendatangiku. Mereka bilang kalau mama sedang membayar belanjaan di kasir. Jadi, kami semua menunggu di luar.
Kurasa sudah setengah jam berlalu. Tapi mama masih belum keluar juga. Aku mulai resah. Apa terjadi sesuatu?, pikirku. Dan karena aku mulai khawatir, aku membayangkan yang tidak-tidak lagi. Kali ini aku membayangkan kalau mama terhisap di sebuah lubang hitam di dinding ketika membawa barang belanjaan. Seketika itu juga aku langsung menangis. Aku takut kalau itu benar-benar terjadi. aku terus menerus menangis. Kakakku berusaha menenangkanku tapi aku terus menangis. Dan akhirnya aku berhenti menangis saat mama keluar dengan membawa barang belanjaan. Aku senng sekali bisa bertemu mama lagi.
Haa.. benar-benar masa kecil yang penuh dengan khayalan. Aku masih ingat saat aku sudah berhenti menangis, aku dibelikan kacang rebus yang dijual di dekat situ. Wuah, kenyang...
Akibat Terlalu Panik
Suatu hari, aku diajak mama pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di Bogor. Mama bilang ingin membelikanku tas sekolah yang baru. Saat itu aku masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Wah, rasanya aku akan mendapatkan pengalaman baru hari ini, pikirku. Sesampainya di sana, mama menyuruhku untuk memilih model tas yang kusuka. Mama juga berpesan untuk tidak terlalu jauh darinya. Aku mengengguk dan segera mencari model tas yang kuinginkan. Sebelum hendak memilih, aku menoleh ke belakang. Ternyata mama masih ada di belakangku. Aku pun memilih tas yang kuinginkan. Tapi, sekitar sepuluh menit kemudian, aku belum mendapatkan tas yang kuinginkan. Akhirnya aku memutuskan untuk mengajak mama mencari tasku di lantai dua. Tapi, ketika aku menoleh ke belakang, aku sama sekali tidak menemukan mama. Saat itu aku panik sekali. Karena terlalu panik, tidak terpikir olehku untuk berkeliling dulu mencari mama. Dan biasanya saat aku panik, aku selalu membayangkan hal yang tidak-tidak. Saat itu yang terlintas di pikiranku adalah kalau mama sudah dalam perjalanan pulang dan lupa telah meninggalkanku. Karena berpikir begitu, aku langsung menangis memanggil-manggil mama. Beberapa orang memperhatikanku. Tapi tidak ada salah satu dari mereka yang melakukan sesuatu. Tak lama kemudian, seorang ibu berbaju merah (wuah, ternyata aku masih ingat warna bajunya!) menghampiriku. Ibu itu menanyaiku apa yang terjadi. Aku tidak bisa menjawab karena masih sibuk dalam tangisanku sendiri. Seakan bisa membaca pikiranku, ibu itu menarik tanganku dan mengajakku ke pos satpam terdekat. Di sana pak satpam menanyakan namaku dan nama mamaku. Pak satpam segera memberitahu pengunjung pusat perbelanjaan tersebut dengan microphone. Dan tak lama kemudian, mama datang ke pos satpam tersebut. Senang rasanya bisa bertemu mama lagi. Mama berterima kasih pada ibu dan pak satpam yang sudah menolongku. Hari itu benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan. Aku juga mendapatkan tas yang kuinginkan. Dan setiap aku melihat tas itu, aku selalu teringat dengan ibu-ibu baik hati yang menolongku saat itu. Untuk ibu yang sudah menolongku, aku ucapkan terima kasih. Terima kasih ya, bu!
Langganan:
Komentar (Atom)
